Minggu, 31 Juli 2011

Trial Novel "U" part 1


“Fathur! Tunggu!”
Kuberpaling ke arah suara yang memanggilku. Kulihat seorang gadis manis berlari mengejarku. Rambutnya yang panjang kemerahan mengembang indah saat itu. Sedikit terpana diriku saat menatapnya berada di dekatku saat ini.
“Kalau tidak salah namamu Myriana anak kelas XII IPA 4, ada apa mengejarku?” kataku saat dia sudah berada di jangkauanku.
“Wow! Terima kasih sudah mengingatku dengan baik. Aku dengar dan kubaca di berbagai surat kabar kalau kamu sudah mecahin banyak kasus susah ya?” katanya sambil kurasa mengatur nafasnya setelah berlari mengejarku.
“Hmm, begitulah. Aku hanya membantu sedikit,” balasku tersenyum.
Dia membalas senyumku sembari berkata,”Aku ada sedikit permintaan untuk membantuku, eh, keluargaku.”
“Ada apa emang? Tapi jangan di sini njelasinnya.”
“Ok. McD yuk. Aku traktir.”
“Wah, pas banget, aku juga lagi kelaperan abis ujian matematika tadi.”

Udara dingin dari penyejuk udara di rumah makan itu lumayan dingin buatku. Kueratkan jaket coklatku, menutup erat seragam sekolahku. Kami berdua duduk di salah satu sudut dan kudengarkan keluh kesah gadis keturunan Rusia ini.
“Jadi, apa yang sedang kamu hadapi?”
“Mmm, minggu depan, waktu liburan semesteran, kami akan mengadakan peringatan meninggalnya kakekku, Yury Meiztor Garganov, sekaligus akan membagi harta peninggalan beliau.  Akan tetapi, kemarin, kami sekeluarga mendapat sebuah surat ancaman...”
“Surat ancaman? Bagaima -hmm- teruskan!” sahutku sambil mengunyah nasi di mulutku.
“Ya, surat ancaman yang berisi bahwa akan ada yang gugur di peringatan itu. Saat kami mengonfirmasi dengan saudara ayah yang lain, mereka juga mendapat surat yang sama seperti keluarga kami. Kami jadi ragu untuk menghadirinya tapi ada kabar burung di keluarga besar kami bahwa sebuah peringatan kematian yang keempat adalah sebuah hal yang sakral bahkan sangat beraroma mistik. Jadi bila ada yang tidak menghadiri sebuah peringatan, orang atau keluarga itu akan mendapatkan kutukan. Seperti yang pernah terjadi pada salah satu kakek buyutku. Kemudian aku ingat kalau Dessi pernah bercerita kalau kamu seorang detektif seperti Sherlock Holmes, jadi aku ingin minta pendapatmu soal hal ini.”
Aku tersenyum pada gadis berambut kemerahan ini sambil menelan daging ayam yang sudah kukunyah selama dia bercerita.
“Sebaiknya kamu sekeluarga tetap menghadirinya. Tidak baik tidak menghadiri sebuah peringatan kematian apalagi itu kakekmu sendiri. Meski aku tidak percaya adanya kutukan,” balasku.
“Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu di sana? Kata gugur di surat itu sepertinya berarti ada yang akan mati di peringatan itu, bukan?”
“Aku tahu. Kamu dan keluargamu mencoba menghindar dari Peringatan itu karena teror itu. Hal itu yang diinginkan Sang Penyebar Teror. Hipotesisku saat ini mengatakan bahwa pelaku menginginkan harta warisan itu. Jadi, nyantai ajalah, anggap saja ini baktimu dan keluargamu yang terakhir untuk mendiang kakekmu.”
“Mmm... untuk berjaga-jaga, maukah kamu ikut ke Peringatan itu?” ujarnya dengan suara yang terdengar ragu.
“Maaf,” balasku sambil mendekatkan telingaku.
“Maukah kamu hadir pada Peringatan?”
Aku tersentak kaget,“Mmm... tepatnya itu kapan?”
“Mulai hari pertama libur kita berangkat ke Banjar.”
“Banjar? Jauh sekali! Aku nggak yakin orang tuaku mau ngijinin aku pergi.”
“Kamu boleh ngajak Dessi deh!”
“Jika kamu memaksa, boleh nggak aku ngajak Ray dan sohib-sohibku yang lain?”
“Berapa orang?”
“Lima termasuk aku.”
“Siapa aja sih?”
“Ray Akira, si anak Jepang itu; Ardi Fauzan, anak olimpiade Matematika; Sinta Nur Aryati, anak Fotografi; dan Dessi Namilla.”
“Oh, mereka? Baiklah akan kuusahakan tiket pesawat untuk kalian. Aku sangat berharap padamu, Fathur!”
“Jangan padaku, Myr! Tapi pada Tuhan Yang Maha Memberi Keselamatan,” sahutku sambil tersenyum.
“Ok. Terima kasih. Besok senin, kutunggu di Bandara ya!”

Hari-hari ujianpun berlalu, aku berusaha merayu orangtuaku agar mengijinkanku pergi bersama sahabat-sahabatku sekaligus menolong Myriana Garganova, gadis cantik keturunan Rusia, yang sedang dalam kesusahan. Pagi hari yang indah di hari pertama liburan semester dua, sebelum menghadapi ujian akhir nasional, aku pergi ke Bandara Internasional Monadharma, bandara yang indah di Kota Saraja, kota kelahiranku, bersama orang tuaku tercinta.
“Ingat ya, Fathur, jangan lupa shalat! Agar selalu dibimbing oleh Allah!” kata ibuku, Adinda Martina, berpesan.
“Inget! Jangan macem-macem sama anak gadis orang! Inget kamu punya adik perempuan juga!” sambung ayahku, Abdullah Mabruri, seorang kiai yang juga seorang penulis cerita pembangun jiwa yang cukup terkenal di Indonesia.
“Iya, ibu bapakku tercinta, aku tahu hukumnya. Aku cuma pergi sebentar kok, mereka juga ikut, Ray, Ardi, Sinta, dan Dessi, mau bantuin temen yang lagi kesusahan.”
“Bapak Ibu pasti kangen banget tiga hari kamu tinggal ke Banjar!” kata ayahku sambil terus memelukku, dan diikuti ibu dan adik perempuanku yang sudah berumur dua belas tahun.
“Mas nanti jangan lupa bawa oleh-oleh ya?” celetuk adikku, Aisyah Nur Halim.
“Boleh..boleh... nanti mas bawain baju kotor biar kamu cuci ya?” sahutku sambil tertawa. Adik kecilku ini memberengut.
“Enak aja, emang aku apa?”
“Kan kamu Dik Ais, adik Mas yang paling cantik,” sahutku tersenyum.
Dia ikut tertawa bersama kami bertiga. Tiba-tiba kudengar sebuah suara menegur kami.
“Assalamu’alaikum... Wah..wah... keluarga Pak Abdullah dateng semua buat nganter Fathur,” kata seorang pria tua yang notabene ayahnya Ray, Rendi Wijaya.
“Waalaikumsalam... Wah, Pak Rendi, Bu Shida, apa kabar?” sapa ayahku.
“Alhamdulillah, semua baik. Lama sekali ya, kita tidak kumpul seperti dulu,” balas Pak Rendi.
“Benar, kita kan terakhir ketemu pas lulusan SMP mereka kan? Setelah itu, yang biasa ambil rapor SMA istri kita,” sahut ayahku.
“Iya, saya pun jarang ketemu Bu Shida kalau pas ambil rapor Ray,” kata ibuku.
“Soalnya saya biasa mengambilnya setelah dzuhur. Biar tidak antri lama sekalian bisa bersih-bersih dahulu,” balas Bu Shida Akira, ibu Ray yang asli Jepang tapi sudah sangat fasih berbahasa Indonesia, bahkan Jawa.

“Eh, itu Dessi ama Sinta kan, Ray?” tunjukku pada dua gadis yang sedang kebingungan mencari sesuatu.
“Dua perempuan yang berjilbab merah muda dan lavender itu? Sinta pakai jilbab? Haduuh... tumben sekali,” kata Ray,”Panggil aja, kalau emang mereka pasti noleh.”
“Yah, Ray, masa aku teriak-teriak kaya orang gila di bandara? Deketin aja yuk,” ajakku.
“Bukannya emang udah gila? Hehe...” balas Ray sambil tersenyum.
Aku membiarkan Ray dalam pose innocent-nya, dan meminta ijin untuk menemui Dessi dan Sinta, dengan Ray.

“Dessi, Sinta? Nyariin apa?” sapa Ray.
“Eh, kalian? Dimana kalian tadi? Si Myriana udah nunggu tuh di deket loket. Gimana sih nggak tanggung jawab kamu ini, Thur!” tegur Dessi yang berjilbab lavender.
“Oh, dia udah nunggu? Ok deh, Des, Sin, kamu ngasih tahu si Myriana dulu deh, biar aku ama Ray ambil barang dulu.” Kami berdua segera berlari kembali ke tempat orang tua kami sembari Dessi dan Sinta menemui Myriana.

“Maaf, Myriana, si Ardi nggak bisa ikut, katanya ada urusan,” kataku saat kami semua berkumpul menemui Myriana di depan loket pesawat yang cukup ternama di Indonesia.
“Eitss, siapa bilang? Aku cuma bercanda, Thur!” sesosok pria kurus kerempeng muncul dari belakang orang tuaku.
“Ardi? Katanya nggak bisa ikut?” kataku.
“Nggak jadi kok, soalnya kapan lagi bisa liburan ke luar kota?” kata Ardi.
“Ok, Myr, kita sudah lengkap,” aku menoleh ke arah kedua orang tuaku, aku berpamitan,” Saya pergi dulu, ibu, bapak.” Begitu pula dengan Ray. Setelah itu, kami pergi ke ruang tunggu penumpang, menanti perjalanan yang kami tidak tahu apa yang yang akan terjadi. Perasaanku hanya mengatakan kalau aku akan melihat seorang anak Adam akan tertumpah darahnya di Banjar.
***

Kamis, 03 Februari 2011

Ripped My Pants (SpongeBob Song)

tadi pagi, aku iseng nyalain tv... nonton Spongebob... kebetulan ada lagu "Ripped My Pants"
(Talking)
When I ripped my pants
I thought that I had everybody on my side,
'till I went and blew it,
all sky high
and now she won't even spare a passing glance
all just because I [rip] ripped my pants.
(Whole band singing)
When big Lary came 'round just to put him down
Spongebob turned into a clown
and no girl ever wants to dance
with a fool who went and [rip] ripped his pants
(Spongebob singing)
I know I shouldn't mope around,
I shouldn't curse
but the pain feels so much worse
Cause windin up with no one is a lot less fun
then a burn from the sun
or sand in your buns....

Now I learned a lesson I won't soon forget
so listen and you won't regret
be true to yourself
don't miss your chance
and you won't end up like the fool...who...ripped...his..PAAANTS
[riiip]
(Talking)
(Sandy: Spongebob! That song really is true! If y'all wanted to be my friend
all ya had to do was to be yourself)
(Larry: Spongebob that was so righteous would you.. Sign My pants?)
(Spongebob: Ya sure buddy! {rip})
(Whistle)


Eh, sore harinya pas latian silat, aku ngerasa klo celanaku sobek... Kugerayangi dan kupikir ada dua lapis di celana seragam silat itu, yang kebetulan aku juga pake celana pendek di dalamnya... setelah kuganti baju, dengan pede aku memakai celana pendek yang aku pake saat latian tadi dan pergi makan... sepanjang perjalanan aku ngerasa aneh... banyak cewek ngliatin sambil malu-malu... ah, biasa aja ah, pikirku...


sesampainya di kos, aku masih dengan pede mengenakan celana itu sambil maen FM... barulah aku ngerasa ada yang aneh dengan "adik kecil"ku... serasa dingin... Kuliat bawah... ternyata.... AAH, SIAL,,, Sobek TOTAL!!!
Hiks... T.T

Senin, 31 Januari 2011

Gak Nyambung Tapi Nyambung...

Sebenarnya ini terjadi lama sekali saat aku masih di kelas XI. Saat itu memang jam kosong dan kami disuruh untuk mengerjakan tugas dari guru yang bersangkutan. Aku dan Cahya sedang mengerjakan tugas tersebut di baris nomor empat dari depan, dari lima baris dari depan. Seperti biasa, kami sekelas pun berbincang satu sama lain dan suasana amat gaduh.
Suatu ketika, pensil mekanikku patah dan seperti normalnya yang lain aku menekan-nekan bagian belakang pensil tersebut, (kepada Cahya dan Hasna aku tolong dibantu siapa satu orang lagi yang sedang ngobrol dengan Hasna waktu itu) dialog berikut masih dalam bahasa jawa, teks bisa di download di rumah bersalin terdekat.
(Hasna dan temen itu ngobrol berjarak dua baris dari kami)
(Aku: A, Cahya: B, Hasna:C, AkuLupa.Com: D)
B: ngopo Mbah?
A: Ki lho isine pensil ra ndang metu...
B: Yo rapopo to ra saya suwe saya penak...
C: wah, penak kui...
A: wah sembt, suwe banget... (sambil terus menekan pensil)
B: sing sabar lah mbah... (nonsense)
A: wis selak rampung ki cah... (panik)
C: ga papa enak og...
A + B: ???
C: lha piye thaw?
A: waduh ra metu-metu...
C: sik lha durung aku...
B: wis betah thaw koe?
A: jah piye jal durung metu ki...
C: enteni aku meh rampung...
B: lha wis rampung kui...
A: nyambung sapa cah?
B: mbuh...
C: Aaahhh...
A: akhire metu cah, ayo nggarap...
B: penak mbah?
A: asembt... (suara mengeras)
C: wis tak buka ki...
D: aku ndelok...
(dialog ini mungkin telah sedikit ada perubahan dari kisah aslinya seiring berjalannya waktu... :P)

(DILARANG NGERES!!!) wkwkwkwkwkwkwk

Jawaban untuk Sahabatku

(Puisi tak bermakna ini hanya secercah frasa dari hatiku atas kata yang telah kau beri padaku... H RAHMAN HAKIM)

Perubahan hanya ternilai, kawan.
Bukan hanya terpandang ego hitam
Yang kini terbanting setir
Langkah pasti gapai mimpi...

Tawaku memang hanya sebuah tawa
Senyum tadi hanya pelipur
Namun kini aku di persimpangan
Dapatkah kau membantuku, kawan?

Terima kasih dari relung jiwa
Terdalam atas uluran tanganmu
Menggapaiku saat tenggelam dalam lumpur kesunyian
Meraihku saat aku ingin menuju awan merah

Kawan, aku memang tak tahu
Apa yang di keheningan hatimu
Tapi,
kuharap itu bukan sejentik
Kuharap engkau mengulurkan tali
Bukan sekadar benang...

Terima kasih telah datang
Beriku pedang dan tameng
Tuk kembali menerobos barisan tembok
Rotan hati yang terjalin...

Kuingin kau jangan terbang...

Surat Pendek dari Sahabat

(Puisi ini dikirim oleh salah seorang sahabatku dan kupikir perlu untuk kusebarluaskan demi mengisi hati para pujangga cinta yang jua tengah berjuang mendapatkan cinta sejati... H RAHMAN HAKIM)

Teman,
aku tahu rasa yang kau rasa saat itu.
Rasa ketika melihatnya berdua mesra dengan temanmu yang lain.
Dia kau puja.
Aku tahu..

Teman,
kau memang belum bagian hidupnya.
Usahamu bagaikan melempar lumpur ke tembok.
Kau juga tahu..

Teman,
tawamu tadi membuat hatiku perih.
Aku tahu rasanya menertawakan kesedihan.
Rasanya harus tertawa ketika melihatnya dekat dengan temanmu yang lain.
Orang yang kau ingin seharusnya itu kau.
Semua juga tahu..

Namun kau memilih tertawa.
Mengubur sakit dengan keriangan palsu.
Menyimpan kekecewaan untuk nanti malam.

Teman,
kau tak sendirian.
Aku bahkan sampai menangis.
Mengutuki diri.
Kau tak tahu.

Teman,
kedekatannya dengannya bukanlah kekalahanmu.
Bukankah dia sudah menyatakan ciri makhluk pujaannya?
Masih ada cukup ruang dan waktu untuk menerobos hatinya.
Berubahlah.
Kau tahu kan?

(Author: Yohanes Pangaribuan)

Minggu, 23 Januari 2011

PERSAUDARAAN ISLAM YANG HAKIKI (Email dari seorang Sahabat)

Oleh : Hizbut Tahrir Indonesia


إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat. (QS al-Hujurat [49]: 10).

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa persaudaraan antar kaum Mukmin adalah dalam hal dîn dan kehormatan, bukan dalam nasab. Karena itu, persaudaraan dalam dîn lebih kokoh dibandingkan dengan persaudaraan dalam nasab. Sebab, persaudaraan nasab dapat terputus dengan perbedaan dîn, sedangkan persaudaraan dîn tidak pernah terputus dengan perbedaan nasab.
Lebih jauh, Allah SWT memerintahkan kepada kaum Muslim untuk bersatu. Allah SWT berfirman:
Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah kalian akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan kalbu-kalbu kalian sehingga karena nikmat Allah kalian menjadi orang-orang yang bersaudara. (QS Ali 'Imran [3]: 103).
Ayat ini turun mengenai kaum Anshar yang mengalami sedikit konflik. Konflik itu bermula dari melintasnya seorang Yahudi melewati kerumunan sekelompok kaum Anshar yang merupakan penduduk pribumi kota Madinah. Kaum Anshar yang berasal dari dua suku-Aus dan Khazraj-pada masa Jahiliah pernah saling berperang selama ratusan tahun. Setelah Islam datang, mereka masuk Islam, dan dengan nikmat Allah SWT, mereka bersaudara. Pemandangan yang indah penuh ceria dalam kehidupan Muslim itu menimbulkan iri hati Yahudi tersebut dan mendorong niat jahatnya untuk melakukan tindakan memecah-belah kaum Muslim. Lalu, dengan tangkasnya, Yahudi itu melakukan politik adu-domba dengan mengisahkan kembali peperangan-peperangan mereka pada masa Jahiliah serta menyebut-nyebut kejantanan, keperwiraan, serta kemuliaan masing-masing suku sehingga hati mereka masing-masing menjadi panas, bahkan masing-masing mulai mengambil senjatanya. Kabar tentang krisis itu segera sampai kepada Rasulullah saw. Beliau pun segera datang untuk melerai. Dengan tegas beliau berkata pada mereka (yang artinya, “Apakah kalian hendak membangga-banggakan dan menonjol-nonjolkan semangat Jahiliah padahal aku ada di antara kalian?”
Para sahabat Anshar dari kedua suku itu pun menyesal dan meletakkan senjatanya masing-masing. Demikian asbâb an-nuzûl ayat tersebut.
Imam Ibn Katsir, dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, (I/477) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan habl Allah (tali Allah) adalah perjanjian dan perlindungan untuk orang kafir dzimmi, sebagaimana disebut pada ayat berikutnya (QS Ali Imran [3]:112). Namun, habl Allah bisa juga berarti al-Quran, sebagaimana disebut dalam hadis marfu‘ dari Ali r.a. ketika menyifati al-Quran, “Al-Quran adalah tali (habl) Allah yang teguh dan jalan-Nya yang lurus.”
Jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya (102), pendapat kedua lebih kuat. Seruan (khithâb) ayat ini ditujukan kepada orang-orang Muslim yang Mukmin, bukan kepada orang-orang kafir dzimmi. Dengan berpegang pada kitab yang sama yang merupakan wahyu Allah SWT, baik ungkapan maupun maknanya, kaum Muslim di manapun mereka berada akan dapat bersatu-padu dan berjuang bersama menegakkan agama Allah. Dengan pegangan yang sama, kaum Muslim akan muncul menjadi umat yang sukses dan selamat dunia-akhirat. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan oleh Abdullah r.a., bersabda:
Sesungguhnya Al-Quran ini adalah tali (habl) Allah yang teguh; cahaya yang menerangi; dan obat penyembuh yang bermanfaat-yang menjadi pelindung (‘ishmah) bagi orang yang berpegang teguh padanya dan menjadi penyelamat orang yang mengikutinya. (HR Ibn Mardawaih).
Imam az-Zamakhsyari, dalam Tafsîr al-Kasysyâf, (I/386), memaknai firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 103 tersebut dengan menyatakan bahwa ayat tersebut bermakna, “Bersatulah kalian dalam permohonan dan kepercayaan kalian kepada Allah dan janganlah kalian berpecah-belah. Bersatulah kalian dalam berpegang teguh pada janji Allah kepada para hamba-Nya, yaitu iman dan taat, serta bersatulah kalian dengan kitab-Nya…”
Adapun berkaitan dengan kalimat Walâ tafarraqû (Janganlah kalian bercerai-berai!), Imam az-Zamakhsyari menafsirkannya dengan, “Janganlah kalian bercerai-berai dari kebenaran lantaran jatuh dalam perbedaan yang luar biasa, sebagaimana perbedaan yang ada pada bangsa Yahudi dan Nasrani, atau sebagaimana perpecahan dan permusuhan yang kalian alami dulu pada masa Jahiliah. Janganlah itu semua terjadi. Kembalilah pada sesuatu yang mempersatukan kalian, yaitu mengikuti kebenaran dan berpegang teguh pada Islam.”
Tegas sekali, ayat ini memerintahkan kaum Mukmin untuk bersatu atas dasar Islam dan untuk menegakkan Islam dengan hukum syariat sebagai tolok ukurnya; bukan bersatu demi pimpinan kelompok, partai, figur, ataupun fanatisme masing-masing. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah, menegaskan hal ini:
"Sesungguhnya Allah SWT meridhai kalian tiga perkara dan memurkai kalian tiga perkara. Allah meridhai kalian jika kalian (1) menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun; (2) berpegang pada tali Allah dan tidak bercerai-berai; (3) sering menasihati orang yang diserahi Allah kekuasaan/wewenang untuk urusan pemerintahan kalian…” (HR Muslim).
Persatuan Bermutu Tinggi
Persatuan dan persaudaraan umat Islam bukanlah persatuan yang asal saja, melainkan persatuan yang kokoh. Allah SWT lewat Rasulullah saw. menjelaskan adanya tiga karakter persaudaraan umat. Pertama, persatuan umat Islam adalah laksana persaudaraan antara sesama saudara kandung. Hal ini tegas dinyatakan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw.:
Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara (ikhwatun) (QS al-Hujurât [49]: 10).
Seorang Muslim adalah saudara (akhun) bagi Muslim lainnya. (HR Muslim).
Dalam kedua nash tersebut Allah SWT dan Nabi saw. menggunakan kata ikhwatun dan akhun yang maknanya saudara. Realitas menunjukkan betapapun berbeda pendapat, satu saudara dengan saudara kandungnya atau familinya tetap akan saling membantu, menolong, dan saling meringankan beban dalam kebaikan dan ketakwaan.
Kedua, persatuan umat Islam haruslah seperti satu tubuh. Nabi saw. menyatakan:
Kaum Mukmin itu seperti satu tubuh. (HR ath-Thabari).
Tubuh yang dimaksud tentu bukan tubuh yang terbujur mati, melainkan tubuh yang hidup dan berfungsi untuk secara bersama-sama melakukan aktivitas bagi kepentingan tubuh secara keseluruhan. Secara individual, setiap komponen umat berjuang untuk kepentingan umat secara keseluruhan, persis seperti tubuh. Mulut, misalnya, mengunyah makanan bukan sekadar untuk kenikmatan mulut, melainkan untuk kepentingan tubuh secara keseluruhan. Hidung menghirup udara bukanlah untuk kebaikan hidung semata melainkan untuk kebaikan seluruh tubuh. Umat Islam, ketika secara benar menjalin persatuan demikian, akan menjadi umat yang utuh seperti tubuh.
Ketiga, persatuan umat Islam haruslah seperti satu bangunan. Hal ini diberitakan oleh Rasulullah saw.:
Muslim dengan Muslim lainnya laksana bangunan yang saling mengokohkan satu sama lain. (HR al-Bukhari).
Bangunan dapat dijadikan tempat beristirahat, menjalin keharmonisan, bahkan mengobati anggota yang sakit. Selain itu, bangunan dapat melindungi penghuninya dari hujan, terik matahari, bahkan gangguan penjahat. Umat Islam yang bersatu adalah umat yang memerankan fungsi seperti bangunan ini.
Secara praktis, Rasulullah saw. menegaskan bahwa kesatuan umat yang dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut adalah persatuan di bawah kepemimpinan kaum Muslim (imamah/khilafah). Sebab, kepemimpinan seperti itulah yang benar-benar merupakan benteng bagi mereka.
Pemimpin (imam) itu benteng. (Kaum Muslim) diperangi (saat berada) di belakangnya dan dilindungi olehnya (HR. Muslim).
Jelaslah bahwa Islam merupakan penyatu hakiki kaum Muslim. Untuk itu, setiap Muslim harus segera meninggalkan segala bentuk pemikiran dan ikatan kufur, dan beralih pada ikatan Islam. Dengan demikian, setiap upaya untuk menjadikan sesama Muslim saling berhadapan dalam bentrokan fisik wajib dihindarkan.
Namun, tidak berhenti sampai langkah cepat dan praktis ini saja. Langkah mendasar dan menyeluruh pun perlu segera dan terus dilakukan. Caranya, pertama, kembali pada pemahaman-pemahaman Islam yang memang membuang jauh ego golongan, kesukuan, ataupun nasionalisme. Kedua, mengusir bisikan dan tipuan setan-setan dari kalangan imperialis kufur dan para pengikutnya yang justru melanggengkan umat dalam golonganisme, kesukuan, dan nasionalisme. Ketiga, terus berupaya bersatu untuk menyatukan umat Islam di sini dengan negeri-negeri Islam lainnya dalam naungan Daulah Khilafah Rasyidah.
Wahai kaum Muslim,
Rasulullah saw. memberikan peringatan tentang kehancuran kita sebagai umat akibat perpecahan diantara kita. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan oleh Mu‘adz bin Jabal, bersabda:
Sungguh, aku berdoa dengan penuh harap. Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa jalla tiga perkara. Dikabulkan dua perkara dan yang satunya tidak. Aku memohon kepada-Nya agar umatku tidak hancur akibat kelaparan. Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada-Nya agar umatku tidak dikalahkan oleh musuh selain mereka. Itupun dikabulkan. Lalu, aku memohon kepada-Nya agar sesama mereka tidak saling mencelakakan. Namun, hal tersebut ditolak. (HR Ahmad).
Dalam hadis tersebut Rasulullah saw. membeberkan bahwa kita, umat Islam, tidak dapat diporakorandakan oleh musuh dari luar. Sebaliknya, umat akan dapat hancur karena sesama kaum Muslim saling berseteru, saling cakar, saling mencelakakan, atau saling memperdaya.
Wahai kaum Muslim yang bersaudara,
Keterpecahbelahan hanya menghasilkan keuntungan bagi mereka yang tidak suka kepada Islam dan umat Islam. Keterbecahbelahan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu, kembalilah pada pangkuan Islam. Jadikanlah akidah Islam dan hukum-hukumnya sebagai tali pengikat sesama Muslim dalam menghadapi mereka yang dengan culas hendak mencengkeram Islam dan umatnya. Hanya Islam dan persatuan Islamlah yang yang bisa mempersatukan manusia secara hakiki. Dengan berpegang teguh pada tali itu semua hati dapat bersatu, merasa tenang dan tenteram selamanya; selamat dunia dan akhirat. 


Wallahu 'alam bis shawab...

Jika Cowok Mesti Jatuh Cinta (Messages FB dari Sahabat Saya)

Cinta lagi, cinta lagi? Yaa… sekedar ngingetin bagi antum dan merealisasikan Surah Al-‘Ashr ayat 3 (tentang saling menasihati dalam kebenaran).
Dalam agama kita, Al-Islam, cinta yang tertinggi dan paling mulia adalah Mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan dalam agama Allah) yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah yang dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RasulNya.
Adapun cinta yang lainnya (yang Bang Udin bahas) yakni cinta pada wanita. Mungkin semua cowok pernah ngrasain. Rasanya hampir tak terkatakan. Adakalanya cinta itu membahagiakan tapi tak jarang juga yang menyakitkan. Ada satu kisah tentang seorang ulama di kalangan Tabi’in, yang mana beliau terkena fitnah ini (fitnah wanita), kemudian beliau menukil perkataan sebagian sahabat: “Jika setan berputus asa menggoda seorang hamba, maka ia menggodanya dengan wanita.” .Sebenernya ini bukan cuma buat cowok, karena kan bukan cuma cowok yang jatuh cinta, hehe!! Kalo antunna (kata panggil untuk wanita jamak) baca ini juga bisa ambil pelajaran. Caranya, ambil aja pemahaman kebalikannya. Imam Ibnul Qayyim membagi cinta ini menjadi 3, yakni: 
1.Cinta yang bermanfaat, halal, dapat menghantarkan pada tujuan yang disyariatkan Allah, cinta yang telah berada pada bingkainya, cinta yang dipuji di sisi Allah dan di sisi manusia, yakni cinta pada istri.
2.Cinta yang haram, dibenci di sisiNya, menjauhkan dari rahmatNya, cinta yang berbahaya bagi hamba, yang mengancam agamanya, cinta yang menjadi penghalang antara hamba dengan Allah. Demi cinta ini, seorang hamba mau melanggar syariat Allah. Inilah cinta pada sesama jenis.
3.Cinta yang mubah. Cinta yang tiba-tiba datang, seperti mencintai wanita cantik yang sifatnya dikatakan kepadanya, atau dilihat dengan tak sengaja, lalu hati pun tertambat padanya. Tapi cinta ini tak sampai menjerumuskan dirinya hingga melakukan maksiat dan kedurhakaan (seperti berhubungan atau berpacaran dengan wanita itu). Yang ini tak menimbulkan siksaan. Yang paling bermanfaat adalah membuang jauh-jauh cinta ini dan menyibukkan diri dengan hal yang lebih bermanfaat. Dan juga harus menyembunyikan perasaannya, menjaga kehormatan dirinya, dan sabar dalam menghadapi ujian cinta ini. Sehingga dengannya Allah memberinya pahala. Yang mesti dilakukan adalah mengganti cintanya itu dengan dengan kesabaran karena Allah, tidak patuh pada bisikan nafsu dan lebih mementingkan keridhaan Allah dan apa yang ada di sisi-Nya. Jenis cinta yang ketiga ini membutuhkan bingkai yang syar’i yang dihalalkan oleh Allah Ta’Ala.
Dari sini, dapat dipahami bahwa seandainya bara cinta itu -yang lahir karena keindahan seorang wanita- mampu dipendam (bahkan diredam), dan tidak melanjutkannya pada tahapan yang melanggar syariat, kemudian bersabar dan memohon ketabahan kapada Allah, dan lebih memilih keridhaan Allah walau harus bertarung dengan perasaan sendiri, maka ini yang dibolehkan. Dan satu hal yang boleh terlupakan bagi seorang muslim, bahwa Allah tak mungkin menyia-nyiakan hamba-Nya yang lebih memilih cinta dan kasih sayang-Nya.Mungkin dengan ujian cinta dan sikap kita yang seperti itu (lebih memilih keridhaan Allah), Allah ingin kita menjadi hamba pilihan yang kelak akan merasakan indahnya bersanding dengan bidadari nan menawan di jannah-Nya. 
Mabuk Cinta = Adzab
Masa’ sih? Simak deh perkataan Ibnu Taimiyyah: “Buah dari kasmaran/mabuk cinta/al-Isyq adalah kurangnya akal dan ilmu, rusaknya agama dan akhlaq, rasa gelisah yang membuat lupa seluruh kemaslahatan agama dan dunia berlipat gundah. Bukti nyata betapa berbahayanya penyakit ini cukup diketahui dengan melihat keadaan umat-umat terdahulu atau mendengar kisah-kisah mereka. Ini lebih baik dari langsung melihat atau mencobanya. Barangsiapa yang pernah ditimpa penyakit ini atau melihat korbannya akan dapat mengambil pelajaran. Tidaklah terdapat penyakit kasmaran melainkan bahayanya lebih besar dari manfaatnya.”
Ibnul Qayyim berkata: “Cinta membuat raja menjadi hamba dan penguasa menjadi jelata.”

Terapinya
Tiap penyakit ada obatnya, itulah yang dalam Islam, karena Rasulullah bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.”
Ibnul Qayyim berkata: “Gejala cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.”
Bagi yang telah merasakan sisi negatif dari virus ini (mabuk cinta) dan ingin kembali, nggak mau terjerumus ke dalamnya, nih, Bang Udin punya terapinya:
1. Ikhlaskan niat dalam tiap ibadah.
2. Memohon dan berdoa kepada Allah.
3. Menundukkan pandangan (tidak jelalatan).Pandangan yang kita layangkan akan menitikkan bekas di hati, kemudian jika bekas itu kita selalu pikirkan sulit bagi kita untuk melupakannya. Sekarang, berapa banyak pandangan kita layangkan, padahal hati kita itu lemah, yang belum tentu bisa menanggung semuanya. 
4. Berpikir akibat yang akan ditanggungnya.
5. Menauhi dan melupakan orang yang dicintai .
6. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat.
7. Mengingat mati.
8. Konsisten dalam belajar agama Islam.
9. Membayangkan cela orang yang dicintai. Abdullah bin Mas’ud berkata: “ Jika salah seorang di antara kalian tertarik kepada seorang wanita, maka ingatlah kebusukan-kebusukannya (si wanita).”
Mungkin ini sedikit dari bang Udin. Sebagai pengingat bagi yang lalai, sebagai obat bagi yang terjangkiti, sebagai satu langkah untuk kembali, sebagai tanda cinta kita kepada Allah Ta‘ala.

majalah 'izzuddin 69