“Fathur! Tunggu!”
Kuberpaling ke arah suara yang memanggilku. Kulihat seorang gadis manis berlari mengejarku. Rambutnya yang panjang kemerahan mengembang indah saat itu. Sedikit terpana diriku saat menatapnya berada di dekatku saat ini.
“Kalau tidak salah namamu Myriana anak kelas XII IPA 4, ada apa mengejarku?” kataku saat dia sudah berada di jangkauanku.
“Wow! Terima kasih sudah mengingatku dengan baik. Aku dengar dan kubaca di berbagai surat kabar kalau kamu sudah mecahin banyak kasus susah ya?” katanya sambil kurasa mengatur nafasnya setelah berlari mengejarku.
“Hmm, begitulah. Aku hanya membantu sedikit,” balasku tersenyum.
Dia membalas senyumku sembari berkata,”Aku ada sedikit permintaan untuk membantuku, eh, keluargaku.”
“Ada apa emang? Tapi jangan di sini njelasinnya.”
“Ok. McD yuk. Aku traktir.”
“Wah, pas banget, aku juga lagi kelaperan abis ujian matematika tadi.”
Udara dingin dari penyejuk udara di rumah makan itu lumayan dingin buatku. Kueratkan jaket coklatku, menutup erat seragam sekolahku. Kami berdua duduk di salah satu sudut dan kudengarkan keluh kesah gadis keturunan Rusia ini.
“Jadi, apa yang sedang kamu hadapi?”
“Mmm, minggu depan, waktu liburan semesteran, kami akan mengadakan peringatan meninggalnya kakekku, Yury Meiztor Garganov, sekaligus akan membagi harta peninggalan beliau. Akan tetapi, kemarin, kami sekeluarga mendapat sebuah surat ancaman...”
“Surat ancaman? Bagaima -hmm- teruskan!” sahutku sambil mengunyah nasi di mulutku.
“Ya, surat ancaman yang berisi bahwa akan ada yang gugur di peringatan itu. Saat kami mengonfirmasi dengan saudara ayah yang lain, mereka juga mendapat surat yang sama seperti keluarga kami. Kami jadi ragu untuk menghadirinya tapi ada kabar burung di keluarga besar kami bahwa sebuah peringatan kematian yang keempat adalah sebuah hal yang sakral bahkan sangat beraroma mistik. Jadi bila ada yang tidak menghadiri sebuah peringatan, orang atau keluarga itu akan mendapatkan kutukan. Seperti yang pernah terjadi pada salah satu kakek buyutku. Kemudian aku ingat kalau Dessi pernah bercerita kalau kamu seorang detektif seperti Sherlock Holmes, jadi aku ingin minta pendapatmu soal hal ini.”
Aku tersenyum pada gadis berambut kemerahan ini sambil menelan daging ayam yang sudah kukunyah selama dia bercerita.
“Sebaiknya kamu sekeluarga tetap menghadirinya. Tidak baik tidak menghadiri sebuah peringatan kematian apalagi itu kakekmu sendiri. Meski aku tidak percaya adanya kutukan,” balasku.
“Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu di sana? Kata gugur di surat itu sepertinya berarti ada yang akan mati di peringatan itu, bukan?”
“Aku tahu. Kamu dan keluargamu mencoba menghindar dari Peringatan itu karena teror itu. Hal itu yang diinginkan Sang Penyebar Teror. Hipotesisku saat ini mengatakan bahwa pelaku menginginkan harta warisan itu. Jadi, nyantai ajalah, anggap saja ini baktimu dan keluargamu yang terakhir untuk mendiang kakekmu.”
“Mmm... untuk berjaga-jaga, maukah kamu ikut ke Peringatan itu?” ujarnya dengan suara yang terdengar ragu.
“Maaf,” balasku sambil mendekatkan telingaku.
“Maukah kamu hadir pada Peringatan?”
Aku tersentak kaget,“Mmm... tepatnya itu kapan?”
“Mulai hari pertama libur kita berangkat ke Banjar.”
“Banjar? Jauh sekali! Aku nggak yakin orang tuaku mau ngijinin aku pergi.”
“Kamu boleh ngajak Dessi deh!”
“Jika kamu memaksa, boleh nggak aku ngajak Ray dan sohib-sohibku yang lain?”
“Berapa orang?”
“Lima termasuk aku.”
“Siapa aja sih?”
“Ray Akira, si anak Jepang itu; Ardi Fauzan, anak olimpiade Matematika; Sinta Nur Aryati, anak Fotografi; dan Dessi Namilla.”
“Oh, mereka? Baiklah akan kuusahakan tiket pesawat untuk kalian. Aku sangat berharap padamu, Fathur!”
“Jangan padaku, Myr! Tapi pada Tuhan Yang Maha Memberi Keselamatan,” sahutku sambil tersenyum.
“Ok. Terima kasih. Besok senin, kutunggu di Bandara ya!”
Hari-hari ujianpun berlalu, aku berusaha merayu orangtuaku agar mengijinkanku pergi bersama sahabat-sahabatku sekaligus menolong Myriana Garganova, gadis cantik keturunan Rusia, yang sedang dalam kesusahan. Pagi hari yang indah di hari pertama liburan semester dua, sebelum menghadapi ujian akhir nasional, aku pergi ke Bandara Internasional Monadharma, bandara yang indah di Kota Saraja, kota kelahiranku, bersama orang tuaku tercinta.
“Ingat ya, Fathur, jangan lupa shalat! Agar selalu dibimbing oleh Allah!” kata ibuku, Adinda Martina, berpesan.
“Inget! Jangan macem-macem sama anak gadis orang! Inget kamu punya adik perempuan juga!” sambung ayahku, Abdullah Mabruri, seorang kiai yang juga seorang penulis cerita pembangun jiwa yang cukup terkenal di Indonesia.
“Iya, ibu bapakku tercinta, aku tahu hukumnya. Aku cuma pergi sebentar kok, mereka juga ikut, Ray, Ardi, Sinta, dan Dessi, mau bantuin temen yang lagi kesusahan.”
“Bapak Ibu pasti kangen banget tiga hari kamu tinggal ke Banjar!” kata ayahku sambil terus memelukku, dan diikuti ibu dan adik perempuanku yang sudah berumur dua belas tahun.
“Mas nanti jangan lupa bawa oleh-oleh ya?” celetuk adikku, Aisyah Nur Halim.
“Boleh..boleh... nanti mas bawain baju kotor biar kamu cuci ya?” sahutku sambil tertawa. Adik kecilku ini memberengut.
“Enak aja, emang aku apa?”
“Kan kamu Dik Ais, adik Mas yang paling cantik,” sahutku tersenyum.
Dia ikut tertawa bersama kami bertiga. Tiba-tiba kudengar sebuah suara menegur kami.
“Assalamu’alaikum... Wah..wah... keluarga Pak Abdullah dateng semua buat nganter Fathur,” kata seorang pria tua yang notabene ayahnya Ray, Rendi Wijaya.
“Waalaikumsalam... Wah, Pak Rendi, Bu Shida, apa kabar?” sapa ayahku.
“Alhamdulillah, semua baik. Lama sekali ya, kita tidak kumpul seperti dulu,” balas Pak Rendi.
“Benar, kita kan terakhir ketemu pas lulusan SMP mereka kan? Setelah itu, yang biasa ambil rapor SMA istri kita,” sahut ayahku.
“Iya, saya pun jarang ketemu Bu Shida kalau pas ambil rapor Ray,” kata ibuku.
“Soalnya saya biasa mengambilnya setelah dzuhur. Biar tidak antri lama sekalian bisa bersih-bersih dahulu,” balas Bu Shida Akira, ibu Ray yang asli Jepang tapi sudah sangat fasih berbahasa Indonesia, bahkan Jawa.
“Eh, itu Dessi ama Sinta kan, Ray?” tunjukku pada dua gadis yang sedang kebingungan mencari sesuatu.
“Dua perempuan yang berjilbab merah muda dan lavender itu? Sinta pakai jilbab? Haduuh... tumben sekali,” kata Ray,”Panggil aja, kalau emang mereka pasti noleh.”
“Yah, Ray, masa aku teriak-teriak kaya orang gila di bandara? Deketin aja yuk,” ajakku.
“Bukannya emang udah gila? Hehe...” balas Ray sambil tersenyum.
Aku membiarkan Ray dalam pose innocent-nya, dan meminta ijin untuk menemui Dessi dan Sinta, dengan Ray.
“Dessi, Sinta? Nyariin apa?” sapa Ray.
“Eh, kalian? Dimana kalian tadi? Si Myriana udah nunggu tuh di deket loket. Gimana sih nggak tanggung jawab kamu ini, Thur!” tegur Dessi yang berjilbab lavender.
“Oh, dia udah nunggu? Ok deh, Des, Sin, kamu ngasih tahu si Myriana dulu deh, biar aku ama Ray ambil barang dulu.” Kami berdua segera berlari kembali ke tempat orang tua kami sembari Dessi dan Sinta menemui Myriana.
“Maaf, Myriana, si Ardi nggak bisa ikut, katanya ada urusan,” kataku saat kami semua berkumpul menemui Myriana di depan loket pesawat yang cukup ternama di Indonesia.
“Eitss, siapa bilang? Aku cuma bercanda, Thur!” sesosok pria kurus kerempeng muncul dari belakang orang tuaku.
“Ardi? Katanya nggak bisa ikut?” kataku.
“Nggak jadi kok, soalnya kapan lagi bisa liburan ke luar kota?” kata Ardi.
“Ok, Myr, kita sudah lengkap,” aku menoleh ke arah kedua orang tuaku, aku berpamitan,” Saya pergi dulu, ibu, bapak.” Begitu pula dengan Ray. Setelah itu, kami pergi ke ruang tunggu penumpang, menanti perjalanan yang kami tidak tahu apa yang yang akan terjadi. Perasaanku hanya mengatakan kalau aku akan melihat seorang anak Adam akan tertumpah darahnya di Banjar.
***